• Breaking News

    SEORANG NETIZEN SALTO SECARA MENDADAK SETELAH MEMBACA BLOG SIMARYON. -O- SEMENJAK BLOG SIMARYON DITERBITKAN, HARGA BAYGON LARIS MANIS, AKAN TETAPI ANGKA KEMATIAN MENINGKAT. -O- PEDANG, CLURIT, DAN BOM ASAP BANYAK DITEMUKAN DIKALANGAN PEMBACA BLOG SIMARYON. -O- SEORANG NENEK MENDADAK BREAKDANCE DI LANTAI ATAS HARTONO MALL SAAT TAU BLOG SIMARYON TEMPLATENYA GANTI. -O- NIKI SETIAWAN : "I LOVE YOU, CHICKEN." -O- SEEKOR CHICKEN MENDADAK JADI DOG SAAT TAU BLOG SIMARYON. -O- DITEMUKAN MAYAT HIDUP YANG TELAH MENINGGAL, DIDUGA ADA TANDA SIMARYON BLOG DI HP CHINANYA, SETELAH DITELITI, TERNYATA MAYAT TERSEBUT SUDAH MENINGGAL.

    Berbagi Kegundahan Melalui Tulisan

    Sunday, 26 July 2015

    Jendral Sudirman


     Image result for sudirman


    Ditengah kegelapan malam sesosok pria bertubuh ganteng mengendap-endap. Maryon namanya. Sesekali dia menoleh kiri-kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikannya. 
     “Tidak mungkin ada yang memperhatikanku,” katanya meyakinkan penulis.

    Baiklah.


    Dia menyeberangi jalan Sudirman yang telah lengang. Hanya satu dua kendaraan yang masih lewat. Setelah melompati pagar pembatas jalan, tibalah dia di kaki patung panglima besar: Jenderal Sudirman.

    Si Maryon mulai memanjat patung sang jenderal. Sesekali dia menoleh kiri-kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikan. “TIDAK MUNGKIN ADA YANG MERHATIIN AKU MONYET! APA ALASAN MEREKA MEMPERHATIKANKU? UNTUK APA AKU DIPERHATIKAN? HIDUP MEREKA TERLALU SIBUK UNTUK MEMPERHATIKAN ORANG LAIN!!” bentaknya pada penulis.

    Ok.


    Kini dia telah duduk di bahu Pak Dirman. Pelan dia berbisik,
    “Turunkan tanganmu wahai panglima besar…”

    Lalu dia ngegas.
    “TURUNKAN TANGANMU WAHAI PANGLIMA BESAR!”

    “MENGAPA ENGKAU MENGANGKAT HORMAT KEPADA GEDUNG-GEDUNG RAKSASA ITU?”

    “MENGAPA ENGKAU MENGANGKAT HORMAT KEPADA ORANG-ORANG ITU?”

    “SIAPA YANG KAU HORMATI JENDERAL? SIAPA??”
    Si Maryon menarik napas, lalu melanjutkan,

    “WAHAI PEMIMPIN BESAR KAMI, TIDAK PANTAS MEREKA MENERIMA HORMATMU!”

    “KOTA INI, ORANG-ORANG PENGHUNI KOTA INI, ADALAH ORANG-ORANG YANG TIDAK PANTAS MENDAPAT HORMAT DARI ORANG SEBESAR ENGKAU!”

    “TURUNKAN TANGANMU WAHAI JENDERAL, TIDAK ADA GUNANYA ENGKAU MENGHORMAT KE CAKRAWALA YANG BERUJUNG PADA KEGETIRAN INI!”

    Maryon menarik-narik tangan kanan sang jenderal. Mendorongnya sekuat tenaga menggunakan seluruh anggota badannya. “Kalo tangan ini tidak mau turun, lebih baik aku patahkan. Aku janji akan menurunkan tanganmu jenderal!”

    Semakin keras dia berusaha, semakin habis tenaganya, semakin sia-sia pula perjuangannya.

    “TURUNKAN TANGANMU JENDERAL. TURUNKAN TANGANMU. AKU MOHON. Aku mohon…” Suaranya tenggelam dalam isak tangis tertahan.

    Maryon menangis tersedu-sedu.
     Tidak rela dirinya melihat sang jenderal, pemimpin besar Indonesia, tidak lelah-lelahnya menghormat ke gedung-gedung besar itu. Apa yang dihormatinya? Cih! Mereka tidak layak dihormati, gedung-gedung itu. Orang-orang itu. Manusia-manusia itu. 
    “Turunkan tanganmu jenderal…”

    Lalu keajaiban pun terjadi. Bunyi batu berderak. Kepala sang jenderal bergerak! Menatap tajam kepada Maryono yang sedang berurai air mata di bahunya. Tangannya tetap menghormat. Maryon terpaku.

    “Kenapa kamu menangis?” Tanya sang jenderal dengan lembut.

    “A.. Aku.. Tadinya aku menangis sedih… S.. Sekarang.. Aku menangis takut…”

    Maryon pipis di celana, sekaligus muncrat kemana mana. Tidak menyangka patung itu bergerak.

    “Apa yang kamu tangisi? Kenapa kamu sedih?”

    Maryon berusaha menguasai dirinya.
    “Aku… Aku Tidak rela melihat bapak mengangkat hormat untuk kota yang apatis ini. Bapak adalah pemimpin besar, bapak adalah panglima besar, tidak pantas pak. Bapak adalah pahlawan.”

    “Hmmm… Jadi kamu sedih karena tanganku terus menerus terangkat, menghormat pada apa yang kamu yakini tidak pantas untuk dihormati?”

    “Iya pak… Tidak elok pak. Panas, hujan, badai, bapak terus saja menghormat mereka. Bahkan kepada mereka yang tidak mengenal bapak lagi.”

    “Siapa namamu?”

    “Maryono pak.”

    “Maryono. Nama yang bujug buset baiknya. Kamu adalah yang pertama mengajak saya bicara. Kamu punya sikap yang teguh. Seandainya kamu diberikan 1 permintaan untuk dikabulkan, apa yang akan kamu minta?”

    “Apa saja?”

    “Ya. Apa saja.”

    “Meskipun mustahil?”

    “Meskipun mustahil.”

    “Aku ingin kaya pak.”

    Suara batu berderak. Wajah sang jenderal kembali menatap cakrawala. Kosong. Teguh dalam diam.

    “Pak?!”



    Karena pada hakikatnya, harta lah yang melupakan mereka kepada para pahlawannya




     

    SPONSORED AND POWERED BY

    BLOGFIKSI

    12 comments:

    1. Inspirasinya dari film naga bonar yah?

      Asik nih quotenya. Jadi ini karena harta kita lupa sama pahlawan, bukan karena gadget?

      ReplyDelete
      Replies
      1. haha iya

        gadget kan termasuk harta...

        Delete
    2. Endingnya nge-twist banget, hahahaha..

      Padahal awalnya udah sedih, karena inget naga bonar..

      But, hikmahnya memang betul, semoga kita tetap ingat pada pahlawan, dan tak terhanyut oleh kemilau harta benda..

      ReplyDelete
      Replies
      1. yang ada terhanyut senyum kemilau kamu... Iya kamu...

        Delete
    3. Pingin nangis yon sama tulisanmu ini, nyentuh banget. Keliatannya si maryono berjiwa patriotik, eh ladalah.. Pas endingnya jadi miris juga, aku aja g nyangka bakal dibuat gitu endingnya.

      ReplyDelete
      Replies
      1. aduuh jangan nangis dong.. duh aku kan jadi pengen nangis.. huhuhu :'(

        Delete
    4. Agak dilema yah ngeliat patung Sudirman, niatnya patung tersebut dibuat untuk menghormati beliau. Tapi malah dibuat dalam posisi menghormat. Maryono.. Maryono, kok ya ujung-ujungnya kepengen kaya juga.

      ReplyDelete
      Replies
      1. seharusnya posisi lagi goyang ngebor kayaknya asik tuh

        Delete
    5. Weladalah, awalnya baca judul aku kira mau ngomongin perjuangan Jendral Sudirman, alias biografinya gitu. Pas baca aku kira bikin cerita tentang nasionalisme, ternyata endingnyaaaa..... Dasar Monyet :D

      ReplyDelete
      Replies
      1. DASAR KUTU ANOA!!! *bales* *gak terima*

        Delete
    6. Sedih bacanyaa :'(
      Ini bener banget yaa, banyak org yang dah lupa sama pahlawannya, silau sama gemerlap kekayaan.
      Duh, semoga banyak generasi muda yang akhirnya tobat setelah baca ini. ;))

      ReplyDelete
      Replies
      1. gue silau sama masa depan gue, cerah meen B)

        Delete

    '; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

    Putra Didik

    Photobucket