• Breaking News

    SEORANG NETIZEN SALTO SECARA MENDADAK SETELAH MEMBACA BLOG SIMARYON. -O- SEMENJAK BLOG SIMARYON DITERBITKAN, HARGA BAYGON LARIS MANIS, AKAN TETAPI ANGKA KEMATIAN MENINGKAT. -O- PEDANG, CLURIT, DAN BOM ASAP BANYAK DITEMUKAN DIKALANGAN PEMBACA BLOG SIMARYON. -O- SEORANG NENEK MENDADAK BREAKDANCE DI LANTAI ATAS HARTONO MALL SAAT TAU BLOG SIMARYON TEMPLATENYA GANTI. -O- NIKI SETIAWAN : "I LOVE YOU, CHICKEN." -O- SEEKOR CHICKEN MENDADAK JADI DOG SAAT TAU BLOG SIMARYON. -O- DITEMUKAN MAYAT HIDUP YANG TELAH MENINGGAL, DIDUGA ADA TANDA SIMARYON BLOG DI HP CHINANYA, SETELAH DITELITI, TERNYATA MAYAT TERSEBUT SUDAH MENINGGAL.

    Berbagi Kegundahan Melalui Tulisan

    Sunday, 12 July 2015

    Lanjutan Kisah Timun Mas






    Gadis itu cantik. Cantik secantik bunga mawar yang terkena embun pagi. Usianya sekitar awal 20-an. Rambutnya panjang tergerai yang bau shampo sunsilk melewati bahunya yang mulus. Hari itu tangan mulusnyanya diborgol. Dia duduk di sebuah kursi kayu yang keras, tanpa bisa berbuat apa-apa. Sesekali dia mengusap matanya yang sembab akibat menangis tanpa henti sejak dijebloskan ke dalam penjara atas kasus percobaan pembunuhan. Di sampingnya duduk sepasang orang tua yang tangannya juga diborgol. Mereka ditangkap beberapa minggu yang lalu dengan tuduhan penipuan. Tubuh ringkih kedua orang tua itu tidak mampu melawan ketika polisi menyeret mereka dari rumahnya di desa dekat hutan gunung Sindoro.

    Mereka duduk mematung di depan microphone yang tersambung dengan pengeras suara ruangan sidang. Mata sharingan mereka tidak berani beradu dengan tatapan tajam Hakim Yang Mulia. Nama aslinya HakimIN AKU JIKA KAU MAU. Dia dikenal sebagai Hakim Put, Hakim super tegas yang tidak pernah melibatkan perasaan dalam mengadili siapa pun. Sudah sejak tadi Hakim Put memulai sidang dengan mengetok palu 3 kali, dan berkali-kali ruangan sidang menjadi riuh setiap mendengar gadis itu menjawab pertanyaan Jaksa Raharja. Ya, itu memang namanya. Mungkin dulu emaknya ngelahirin dia waktu lagi di terminal habis naik pesawat (?)

    “Sekali lagi, Timun Mas, apakah kamu mengenal pria ini?” Tanya Jaksa Raharja kepada gadis itu sambil menunjuk sesosok raksasa berwarna hijau yang duduk di kursi saksi. Yah, raksasa itu dikenal dengan Buto Ijo yang malah kalo dilihat dari kejauhan milik hulk lagi diare.

    “Iya, saya kenal,” jawab Timun Mas lirih.

    Ruangan sidang mendadak gaduh. Orang-orang berdiskusi di tempat duduknya masing-masing.

    “Tenang! Tenang!” teriak Hakim Put sambil mengetok-ngetok palunya. “Sekali lagi saya minta kalian tenang atau mulut kalian semua akan saya jahit!”

    Audiens langsung diam. Hakim Put tidak main-main. Dulu dia sempat jadi tukang permak jins.

    “Saudara Jaksa silakan lanjutkan.”

    “Terima kasih Yang Mulia. Timun Mas, saudari telah menyatakan kalo saudari kenal dengan raksasa itu. Apakah saudari tahu namanya?”

    “Buto Ijo, pak jaksa.”

    “Saudari tahu apa yang saudari perbuat kepada Buto Ijo, yang dalam hal ini adalah saksi sekaligus pelapor, telah membuatnya hampir kehilangan nyawa?”

    “Saya hanya menyelamatkan diri saya. Saya tidak bermaksud untuk membunuhnya. Saya bukan pembunuh pak, bukan pembunuuh..”

    “Kalo saudari bukan pembunuh, lalu apa alasan saudari menjebaknya berkali-kali hingga akhirnya Buto Ijo tenggelam di danau lumpur?”

    “KEBERATAN YANG MULIA!” Seorang pria berjas hitam dengan kumis tebal dan rambut tipis berdiri tiba-tiba dari deretan kursi di sebelah kanan ruang sidang. Penulis tidak tau siapa dia, yang jelas, dia ganteng banget..

    “Ya saudara pengacara?” Jawab Hakim Put.

    “Jas saya terlalu berat, boleh saya membukanya Yang Mulia?”

    “Silakan saudara pengacara.”

    “Terima kasih Yang Mulia. Monggo dilanjut sidangnya.”

    Jaksa Raharja lalu melanjutkan kalimatnya. “Silakan dijawab, saudari Timun.”



    “Seperti keterangan saya sebelumnya, pak jaksa, saya hanya berusaha menyelamatkan diri. Saya tidak pernah tahu kesaktian dari barang-barang pemberian orang tua saya, saya hanya menggunakannya berdasarkan naluri hewani saya.”

    “Berdasarkan keterangan korban, saudari menyerangnya dengan garam, cabai, timun, dan terasi udang. Apakah itu benar?”

    “Benar pak jaksa.”

    “Dan saudari tidak mengetahui efek dari setiap, emmm, senjata itu?”

    “Tidak tahu pak jaksa.”

    “KOPLOKK!! Siapa yang memberikannya padamu?”


    “Orang tua saya, pak jaksa.”

    Kedua orang tua Timun Mas mendadak gelisah, gugup, keringat menetes satu demi satu dari dahi mereka.

    “Apakah itu benar, hai orang tua?”

    “I.. Iya, pak jaksa..” Ayah Timun Mas menjawab terbata-bata. Saking terbata batanya sampe mereka bisa membangun sebuah rumah di sebelah ruangan sidang.

    “Apa tujuan saudara memberikan senjata rempah berbahaya itu kepada Timun Mas?”

    “Agar dia bisa meloloskan diri dari kejaran Buto Ijo, pak jaksa. Kami takut dia akan disantap oleh raksasa itu..” Jawab ibu Timun.

    “Buto Ijo!” Panggil Hakim Put.

    “Siap Yang Mulia!”

    “Coba jelaskan kronologis singkat sesuai Proposal yang telah kamu buat tentang kasus ini. Sidang ingin mendengarnya secara langsung.”


    “Baik Yang Mulia. Begini ceritanya. Suatu hari aku sedang jogging di hutan, lalu tiba-tiba aku dengar suara tangisan dari sebuah gubuk. Mampirlah aku ya kan. Siapa pulak pagi-pagi nangis ya kan, penasaran aku. Aku intip, ternyata dua orang tua itu lagi menangis. Kasian kali lah aku liatnya. Mereka sudah lama kawin tapi tidak dapat-dapat anak juga. Nah kebetulan aku bisa bikin anak, sel spermaku kalo bertemu dengan sel telur ketimun, bisa jadi anak. Tapi seumur hidup cuma bisa sekali aku bikin.”




    Ruangan gaduh.

    “DIAAAMM!! JAHIT NIH!!” Suara Hakim Put menggema di ruangan sidang sambil nentengin mesin jahit, seketika semua terdiam. Buto Ijo melanjutkan ceritanya.

    “Akhirnya aku bilang sama dua orang tua itu, hoi, kalian mau anak? Aku bisa kasih, tapi kalo sudah besar, sudah dewasa, yaah 17 tahun lah, kalian kembalikan ke aku. Gimana?”

    “Untuk dimakan?” Tanya Hakim Put.


    “Ya terserah aku lah Yang Mulia. Kan aku yang bikin, aku yang kasih, mau aku makan atau aku jadikan Miss Universe itu urusan aku. Pertanyaan Yang Mulia kayak orang mau cuti trus bosnya tanya, mau kemana? Itu kan hak, mau cuti ke Hongkong atau ke kantor saingan, urusan masing-masing. Ya kan?”

    “Iya iya. Lanjut.”

    “Nah, aku lanjut ya. Akhirnya dua orang tua itu setuju sama syarat yang aku mintak. Mereka janji akan menuruti syarat dari aku, jadi aku kasih lah mereka biji ketimun yang sudah aku tetesi sperma aku kan. Aku bilang, ini kau tanam, sembilan bulan kemudian kau petik. Isinya anak.”

    “Terus mereka terima bijinya?” tanya jaksa.

    “Iya pak jaksa. Bijinya mereka tanam. Tanyalah sendiri sama orang tua dua itu.”

    “Orang tua Timun Mas, silakan lanjutkan cerita Buto Ijo,” kata Hakim Put.


    “Baik Yang Mulia. Jadi waktu itu kami tidak berpikir panjang, sudah berpuluh-puluh tahun kami merindukan kehadiran seorang anak. Makanya begitu mendapat tawaran dari Buto Ijo, kami langsung mengiyakan. Masalah apa yang akan terjadi nanti, itu kami tidak pikirkan. Yang penting bisa punya anak.” Ayah Timun bercerita dengan cukup tenang, dia mulai bisa menguasai dirinya.

    “Jadi kalian berjanji kepada Buto Ijo dengan sadar?” tanya Hakim.

    “Iya pak hakim.”

    “Lanjut.”

    “Biji itu kemudian kami tanam, lalu tumbuh menjadi pohon mentimun yang besar. Buahnya cuma satu, besar dan berwarna emas. Saat usia tanaman tepat 9 bulan, buah mentimun emas itu jatuh dari pohonnya. Kami membukanya, dan menemukan Timun Mas di dalamnya. Kami sangat bahagia waktu itu Yang Mulia. Suami saya langsung melompat-lompat kegirangan dan mengabarkan kehadiran Timun Mas melalui twitter. Kami lalu menamainya Timun Mas, nama yang sangat kreatif.” Ibu Timun bertutur sambil sesekali batuk biar hadirin bersimpati padanya.

    “Timun Mas lalu tumbuh besar, tanpa tahu asal-usulnya. Tiba-tiba dia sudah berumur 17 tahun, dan datanglah Buto Ijo menagih janjinya. Kami benar-benar tidak rela Timun Mas diambil olehnya, kami yang membesarkannya, mendidiknya, menafkahinya, kami tidak rela memberikannya kepada Buto Ijo untuk disantap.” Ayah Timun menarik nafas panjang, lalu melanjutkan ceritanya.

    “Kami ceritakan asal-usulnya. Dan karena panik, kami tidak punya pilihan lain selain menyuruh Timun Mas untuk lari, lari sejauh mungkin. Biarlah dia berpisah dengan kami, asalkan dia tidak menjadi makan siang Buto Ijo.”

    “WOI WOI, MEMANGNYA DULU AKU PERNAH BILANG DIA MAU AKU MAKAN??” Buto Ijo protes.

    “DIAM BUTO IJO! JANGAN BERTERIAK DI RUANG SIDANG SAYA!!!” Hakim Put lagi-lagi mengeluarkan suaranya yang menakjembutkan. Buto Ijo mengkeret.


    “Sebelum lari, kami membekalinya dengan garam, cabai, mentimun, dan terasi sakti yang khasiatnya dahsyat.”

    “Dari mana kalian memperoleh benda-benda itu?” tanya jaksa Raharja.

    “Travelloka”


    “…………….. Lanjut.”

    “Kami tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas sebelum maghrib Timun Mas telah kembali ke rumah dengan baju compang-camping, peluh bercucuran, tapi Buto Ijo tidak terlihat lagi. Katanya dia berhasil menyingkirkannya.”

    “Baiklah, sampai disini cerita orang tua Timun Mas. Selanjutnya saya ingin mendengar cerita dari Timun Mas, silakan Mun.” kata Hakim Put.


    “Cerita selanjutnya sama dengan yang sudah beredar di masyarakat dan Mata Najwa pak hakim. Buto Ijo mengejarku, aku lari dan mengeluarkan senjata rahasia itu satu persatu. Dan akhirnya Buto Ijo tenggelam di lautan lumpur yang tanahnya aku lempar dengan terasi udang…” Timun Mas menunduk. Terisak.

    “Buto Ijo, kenapa kamu mengejarnya?” tanya jaksa Raharja.

    “Ya karna dia lari lah pak jaksa. Kalo dia joget ya aku joget juga.” Jawab Buto Ijo, sewot. 
    “Mereka sudah janji mau kasih Timun Mas ke aku kalo sudah besar, aku cuma menagih janjinya mereka. Malah aku dijebak, mau dibunuh. Untung aku selamat dari lautan lumpur itu berkat mas Tutit Widodo dari acara Mancing Maniak Teranstujuh. Kebetulan mereka lagi suting disitu dengan tema memancing di air keruh. Eeh mata kailnya nyangkut di hidung aku, trus aku ditarik keatas. Dikira ikan paus kali ya hahaha… dia langsung bilang Strike.. Strike mbahmu kiper!”

    “Ok, jadi saudari Timun Mas mencoba membunuhmu 4 kali berturut-turut masing-masing menggunakan garam, cabai, mentimun dan terasi udang?” tanya Hakim
    .
    “Betul Yang Mulia.”


    “Dan orang tua Timun Mas membantu merencanakan percobaan pembunuhan ini, sekaligus melakukan upaya penipuan terhadap Buto Ijo dengan tidak memenuhi janjinya menyerahkan Timun Mas ketika dewasa,” tambah jaksa Raharja.

    “Baiklah. Keterangan sudah cukup jelas. Dengan ini saya menyatakan Timun Mas BERSALAH atas tuduhan percobaan pembunuhan, kedua orang tua Timun Mas juga BERSALAH atas tuduhan penipuan dan perencanaan pembunuhan terhadap Buto Ijo.”

    Timun Mas dan kedua orang tuanya menangis tersedu-sedu. Buto Ijo menjadi iba.

    “Saya menjatuhkan hukuman penjara seumur..”

    “PAK HAKIM!” Buto Ijo berdiri menyela putusan Hakim Put.

     





    “HEI BUTO IJO KAU JANGAN BIKIN SAYA MUAK! SEDIKIT-SEDIKIT TERIAK! KAMU MAU SAYA MENGGILA??”

    “Bukan Yang Mulia Hakim! Kampret banget sih! Aku cuma mau bilang sesuatu sebelum Yang Mulia ketok palu.”


    “BAIKLAH. Silakan.”

    “Begini Yang Mulia. Sebenarnya tujuan aku mengadukan Timun Mas sama orang tuanya ini bukan buat dihukum penjara atau apa lah. Aku tidak sejahat itu. Aku cuma ingin mereka dinyatakan bersalah, itu cukup. Tak perlu lah dihukum. Aku cuma kesal gara-gara semua orang bilang aku yang jahat padahal mereka yang pembunuh. Mereka yang melanggar janji. Benci kali aku tiap baca cerita rakyat, Buto Ijo lagi yang salah, Buto Ijo lagi yang jahat. Dibilang mau makan Timun Mas, padahal kan belum tentu. Kalo cuma buat aku makan, ngapain aku kasih mereka buat dibesarkan? Aku juga bisa. Jadi ya itu pak hakim, sudahlah. Yang penting sudah jelas kalo aku tak salah. Aku bukan penjahat. Tak usah lah dihukum mereka. Bebaskan saja.”

    “Hmmm.. Tapi hukum adalah hukum, tidak bisa. Mereka harus dihukum sesuai hukum yang berlaku di negara hukum kita ini.”

    “Aah pak hakim ribet kali, aku sudah memaafkan. Sudahlah.”

    “Tidak bisa. Hukum harus ditegakkan.”

    “Ah pak hakim, kan aku sudah bilang, sudahlaaah..”

    “TIDAK BISA! KAU JANGAN MENGATURKU!”

    “EH KAU LAMA-LAMA BELAGU KALI PAK HAKIM! KAU LUPA AKU RAKSASA??”

    “SAYA TIDAK TAKUT DENGAN RAKSASA! DIAM ATAU SAYA JAHIT MULUTMU!”

    “KAU NEKAT KALI PUN!”

    Buto Ijo menghambur menuju meja Hakim Put. Hakim Put panik. Seisi ruangan panik. Polisi mengokang senjatanya. Sipir mengepung Buto Ijo. Buto Ijo mengamuk. Tembakan dilepaskan. Timun Mas dan kedua orang tuanya lari. Penjual terasi juga kabur yang daritadi jualan kerupuk disitu.. Tapi tiba tiba....Sepotong terasi udang melayang di tengah ruang sidang, mendarat di meja Hakim, lalu terjatuh ke lantai dekat kaki Buto Ijo.

    Dan, akhirnya, ruangan sidang menjadi lautan lumpur lapindo yang terjadi selama ini..

    Itulah legenda lumpur lapindo, yang berawal dari terasi.

    MORAL : Tak selamanya buto ijo itu bersalah. Terkadang, manusia protagonis juga bisa menjadi jahat dibalik sandiwara manis mereka. 
    Sama seperti kita. Terkadang kita bersikap baik tapi ternyata malah menjerumuskan yang lain. Kita ingin menyelamatkan, tapi ternyata kita mencelakakan. Kita membuat tegnologi canggih, tapi ternyata kita juga merusak alam. Itulah kita di dalam sandiwara timun mas.


    SPONSORED BY : BLOG FIKSI.
    THANKS TO : BLOG FIKSI





     




     

    14 comments:

    1. Kok fontnya beda yah? Ini cara benerinnya gimana sih kampret banget -,-

      ReplyDelete
    2. Iya ini kok fontnya jadi raksasa gitu deh? gw baca percakapannya kek yg ngegas gitu gara2 fontnya gede2 hahaha

      ReplyDelete
    3. Gue sempet mikir ini beneran akan jadi cerita Timun Mas. Ternyata malah dirombak ulang dari cerita aslinya. Menurut gue keren, sih. Bisa kepikiran kalo ini settingnya di Ruang Sidang dan dunia yang modern. KOmbinasinya menurut gue terlalu maksa banget, bro... Yaelah, timun mas lahir masuk twitter, kan ini ngaco bener.

      Tapi, kalo endingnya gue suka, sih. Ternyata cerita sepanjang ini pada akhirnya punya manfaatnya di akhir. Bener kata lo bro, sebeneranya sifat manusia yang bisa membuatnya seperti apa. Ya, kali kalo si Buto Ijo selama ini salah karena yg nulisnya dibuat salah. Coba yg nulisnya dibuat gak gitu. Mungkin cerita rakyat ini gak sedramatis itu. Lagian di cerita ini, Buto Ijo ngomongnya kamfret gitu.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Tadinya mau masuk instagram terus keluarnya dipath, cuma kan ambigu gitu kalo gue bercerit tentang sesuatu yg keluar masuk *IYKWIM

        Btw, bapak nya buto ijo siapa ya?

        Delete
    4. Berasa kayak kebuka mati hati aku.
      Yg pertama, habis baca fiksi dodol gini ada gunanya juga, bukan salah buto ijo sepenuhnya, orang tua timun mas udah berjanji, eh malah ditipu. Macam orang utang duit. Ditagih malah ilang.
      Kedua aku baru tau kalau ternyata buto ijo orang medan rupanya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya tuh, orang tuanya nipu. Udah berjanji malah ilang, kayak kamu, udah janji nikahin aku, eh nikahnya sama izhar si kampret konoha itu, kan KZL

        Delete
    5. haha, kalo ini sih sebenernya diambil dari cerita timmun mas dan buto ijo versi asli yaa, cuman agak dirubah sedikit jalan ceritanya biar ada makna yang bisa diambil.

      Pesan moralnya asik juga tuh. Emang dunia ini panggung sandiwara. Jadi terkadang orang ngomong gini, ujung-ujungnya gitu. Kadang di depan bersikap baik, tapi niatnya malah mencelakakan. hmmm...

      ReplyDelete
      Replies
      1. hmm, didepan baik tapi niatnya mencelakakan mengingatkanku pada para calon calon bupati, pas dipih lupa sama janjinya, hih ....

        Delete
    6. TERBAIK ! ^^
      Saya suka imajinasinya, saya suka gaya tulisannya, saya suka humornya, saya suka hikmah ceritanya. Cocokologi banget lah.. wkwkwkwk. Bikin lagi ya yang beginian.. hehe ^^
      hmm... dan sejauh ini oke banget, karena ga ada kalimat kasar yang gimana gitu dalam tulisannya, paling nyebut2in julukannya Izhar doang... Like it :) # Izhar sekarang katanya mau tobat, udah ga kampret lagi,,, sekarang jadi betmen

      ReplyDelete
      Replies
      1. wah makasih makasih.. arigatooo

        wih, berarti izhar mau ngelawan supermen dong?

        Delete
      2. Iyak... bahkan dipilemkan sih katanya hehe

        Delete
    7. apik.......
      ada moral cerita di bagian akhir
      Lanjutkan dengan dongeng2 yang lain !

      ReplyDelete
    8. terima kasih ceritanya sangat menarik.,.,.salam
      cvtugu_rentcar

      ReplyDelete

    '; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();

    Putra Didik

    Photobucket